Sunday

Geng Motor, Anomi, Delikuensi dan Pendampingan

Permasalahan tawuran, intimidasi senior, penggunaan narkotika serta pengerusakan yang dilakukan oleh geng motor yang terjadi akhir-akhir ini di masyarakat kita merupakan bagian dari delikuensi (kenakalan remaja) yang oleh Stark (1975) dikategorikan sebagai perilaku menyimpang dimana perilaku ini merupakan cermin dari anomi atau ketiadaan norma.

Di kota Bandung sendiri, dimana aksi geng motor sering terjadi, kecenderungan perilaku mereka mengarah ke kriminal setidaknya telah berlangsung sejak tahun 1990-an lalu, tak lama setelah arena balapan di jalanan di Bandung dijaga ketat aparat kepolisian. Jalanan yang sering digunakan untuk kebut-kebutan antara lain kawasan Gasibu di Jalan Diponegoro, kawasan Dago dan Jalan Supratman. Arena kebut-kebutan tak lagi terlokalisasi. Mereka menyebar secara sporadis ke jalanan lain yang lolos dari pindaian polisi. Jalanan membawa hawa panas rupanya. Mereka tak sekadar kebut-kebutan, tapi juga tawuran. (Mulyani Hasan, 2007)

Anomi

Merton (1957) dalam bukunya Social Theory and Social Structure menguraikan secara lengkap dan mendalam pandangan sosiologis berkenaan dengan perilaku menyimpang yang terjadi melalui teori anomi. Dan menurut Sutherland (dalam Suyatno, 2006) perilaku menyimpang yang dilakukan oleh remaja merupakan sesuatu yang dapat dipelajari.

Pada dasarnya teori anomi yang awalnya dicetuskan oleh Durkheim dalam Le Suicide (1897) yang kemudian dikembangkan oleh Merton (1957) memiliki dua elemen utama yaitu : adanya tujuan-tujuan budaya (cultural goals) dan adanya cara yang diakui untuk mencapai tujuan budaya tersebut atau institutionalized means. Anomi sendiri terjadi karena ada upaya menciptakan cara sendiri dalam mencapai cita-cita dambaan masyarakat.

Delikuensi dan Strata Sosial

Dalam konteks delikuensi, Cohen (1955)memaparkan hasil penelitiannya yang memperlihatkan anak-anak kelas pekerja yang mengalami anomi di sekolah yang mayoritas dari berisi siswa dari strata kelas menengah, sehingga mereka membentuk sub-budaya yang anti nilai-nilai menengah yang berisikan norma-norma yang negatif dalam pandangan masyarakat.

Remaja dari kelas bawah tersebut cenderung tidak memiliki materi dan keuntungan simbolis sehingga selama mereka berlomba dengan remaja kelas menengah mereka banyak mengalami kekecewaan dan kemudian membentuk 'geng'.

Anomi ini juga terjadi di luar sekolah sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Shaw dan McKay (1969) selama tiga puluh tahun di Chicago berkenaan dengan delikuensi yang menyimpulkan bahwa di daerah pemukiman golongan masyarakat kelas bawah, dimana kemapanan dan keseragaman nilai sosial masyarakat stabil, delikuensi cenderung dinilai sebagai alternatif yang disetujui oleh para pelakunya sebagai alternatif perilaku walaupun merupakan pelanggaran hukum.

Dan pada kenyataannya rata-rata anggota geng motor yang dianggap meresahkan ini adalah orang-orang yang tidak cukup memiliki kemapanan sosial, baik dalam ekonomi, intelektual, maupun strata sosial lainnya. Aksi geng motor saat ini tidak lebih dari sikap kegamangan, frustasi atau keputusasaan atas kondisi sosial yang mereka hadapi (Agustin Satyawati, 2007)

Alternatif Solusi

Menurut Hirchi (dalam Junger, 1990), ada motto yang berkembang di kalangan anak delikuen yaitu bahwa, "Kami akan melakukannya jika kami bisa melakukannya", sehingga dalam keadaan demikian, Cohen dan Felson (dalam Junger, 1990) mengemukakan dalam opportunity theory bahwa, "Jika anda memberikan kesempatan kepada remaja untuk melakukan pelanggaran sebagian besar dari mereka pasti akan melakukannya". Remaja memang belum mempunyai identifikasi diri yang kuat dengan masyarakatnya dan hanya memiliki sedikit rasa tanggung jawab.

Maka disini perlu satu proses pendampingan atau keterikatan (attachment) remaja oleh seseorang yang sangat berarti baginya seperti orang tua, teman, keluarga ataupun guru. Keterikatan emosional ini meliputi tiga sub konsep, yaitu : kasih sayang antara remaja dengan orang-orang yang memiliki ikatan emosional dengannya, komunikasi diantara mereka dan pengawasan. Sehingga Rutter dan Giller (dalam Junger, 1990) melihat ketiga konsep tersebut sebagai faktor-faktor yang penting peranannya dalam melindungi remaja mengekspresikan perilaku delikuennya.

Konsep pedampingan ini tentunya perlu disosialisasikan dan diimplementasikan secara intensif oleh pemerintah dan dibantu oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau pun organisasi-organisasi sosial lainnya dalam rangka tindakan preventif ataupun pengentasan delikuensi yang diarahkan kepada masyarakat strata bawah dan secara khusus kepada anggota keluarga geng motor sebagai ikatan sosial terdekatnya.

Intinya keran saluran-saluran kegiatan berorientasi hobi, kepemimpinan, keilmuan, beliefs, olahraga atau bahkan pendidikan politik khususnya bagi remaja geng motor dari strata bawah perlu dibuka lebar-lebar. Dan semoga hal ini menjadi perhatian pemerintah, khusus Kementrian Pemuda dan Olah Raga.

Sumber Pustaka :

(1) Masalah-masalah Sosial. Paulus Tangdilintin dkk. 2007.
(2) Teori Kriminologi. M. Kemal Darmawan. 2007.
(3) http://ayasha.wordpress.com/2007/12/04/geng-motor-ekspresi-frustasi/
(4) http://mulyanihasan.wordpress.com/2007/01/30/pos-214/

Semoga Bermanfaat.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment